Trainer UMKM, Budiman. (Foto: Ist.)


Ekonomi

Diferensiasi dan Promosi Randang Meningkatkan Value serta Penyerapan Produk Kuliner Sumbar

Oleh Budiman*

 

PADANG (SumbarFokus)

Diferensiasi produk atau pembedaan produk (bahasa Inggris: product differentiation) adalah proses pembedaan suatu produk atau jasa untuk membuatnya lebih menarik terhadap suatu pasar sasaran tertentu. Diferensiasi produk juga bisa diartikan sebagai kegiatan memodifikasi produk agar lebih menarik, perubahan yang dilakukan adalah mengubah karakter produk. Upaya pembedaan produk ini diterapkan di produk kuliner khas Sumatera Barat, randang.


Sumatera Barat, selain terkenal dengan objek wisata, memang juga terkenal dengan kulinernya. Dua sektor ini saling mendukung, berdampak pada meningkatnya kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Randang sendiri merupakan makanan berbahan dasar daging sapi (biasanya diambil bagian tenderloin atau bagian pinggang yang lunak), berkuah santan, dan kaya akan bumbu rempah. Rasanya menjadikan makanan ini primadona dan kebanggaan masyarakat Minangkabau.

Namun, ternyata, randang tidak hanya menjadi primadona di mata masyarakat Minang dan Indonesia. Menurut survei yang dilakukan oleh Cables News Network pada 2001 dan 2017, randang mendapatkan nominasi Masakan Terenak di Dunia berdasarkan Reader's Choice, dengan 35.000 voternya mengalahkan sushi dan tom yang goong dari Thailand. Tak sampai di situ saja, chef terkenal dunia, Gordon Ramsay, juga menyatakan bahwa randang merupakan masakan terenak di dunia.

Seiring perjalanan waktu, produk randang dimodifikasi oleh para pelaku UMKM di Sumatera Barat. Dari yang tadinya dikenal hanya diolah menggunakan daging sapi, kini randang dibuat bentuk variasi lain pengganti daging sapi, seperti belut, pakis, jengkol, telur, bahkan pucuk ubi (red-daun singkong). Ini merupakan alternatif bagi konsumen yang tidak bisa mengkonsumsi dading, jugau untuk mengikuti gaya hidup vegeterian saat ini.

Dengan adanya variasi turunan produk rendang ini, kekayaan kuliner di Sumatera Barat tentu bertambah. Walaupun produk randang sudah di kenal orang dan mendunia, namun perlu diketahui bahwa randang yang dikenal orang saat ini adalah randang daging sapi, bukan randang dengan bermacam variasi di atas. Terkait ini, maka pelaku UMKM yang memproduksi turunan rendang di atas sangat perlu untuk mengiklankan produknya agar dikenal khalayak banyak.

Permasalahan para pelaku UMKM saat ini, ditemukan Penulis, ketika produk sudah dibuat, adalah pertama tidak tahu dan tidak mampu untuk mempromosikan produknya, kedua kemana harus diiklankan, ketiga takut biaya mahal, dan keempat pengiklanan hanya sesaat/tidak rutin. Sementara, di sisi lain, promosi merupakan hal penting bagi produk UMKM agar bisa dikenal khalayak.


Sebenarnya, banyak cara dalam melakukan promosi bisa dilakuakn saat ini. Tak hanya media promosi offline, seperti surat kabar, majalah, brosur, dan papan reklame; promosi bisa juga dilakukan secara online. Berbagai macam media berbasis online yang bisa digunakan untuk mengiklankan produk turunan rendang ini. Salah satu media yang berbasis online, yang bisa digunakan oleh para pelaku UMKM saat ini, adalah media sosial, seperti platform Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok. Iklan di media sosial ada yang gratis dan ada yang berbayar, Iklan di media sosial juga bisa dilakukan setiap saat dan berulang.

Beberapa jenis iklan itu sendiri antara lain iklan informatif, yang bertujuan menciptakan kesadaran merek, dan pengetahuan tentang produk; iklan persuasif, yang bertujuan menciptakan kesukaan, preferensi, keyakinan dan pembelian produk; iklan pengingat, yang bertujuan menstimulasikan pembelian berulang; dan iklan penguat, yang bertujuan meyakinkan konsumen.

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa diferensiasi produk randang akan mampu meningkatkan value dari produk itu sendiri, dan tak berhenti sampai di sana, variasinya atau juga produk itu sendiri sangat penting untuk dipromosikan, agar pasar mampu menyerapnya. Upaya promosi juga perlu dilakukan secara berulang, agar minat konsumen terjaga, bahkan mengalami peningkatan. (*Penulis adalah trainer UMKM)

Editor :  -

COPYRIGHT © SUMBARFOKUS 2022




      sumbar